Langsung ke konten utama

KIAYI ITU HARUS KAYA ALIM DAN SAKTI Tafsir Genius ala Thariqah Anfusiyah Indonesia

 KIAYI ITU HARUS KAYA ALIM DAN SAKTI

KIYAI KAYA ALIM SAKTI

Dalam penyebaran agama Tauhid (Islam) atau mengajak ke pada agama Islam, dibutuhkan keahlian-keahlian bagi para pendakwah atau sering kita sebut dengan ulama, sedangkan di jawa-madura sering disebut dengan Kiyai. Kiyai ini dituntut untuk memiliki tiga kreteria tersebut dalam judul diatas yaitu kaya, alim dan sakti. Hal ini di sampaikan oleh Kiyai As’ad Syamsul Arifin kepada Santri-santrinya. Termasuk di sampaikan ke pada salah satu santrinya yang bernama Kiyai Suroso Mu’in (Panarukan Situbondo).

Kiyai suroso mu’in ini adalah salah satu santri tertua dari Kiyai As’ad Syamsul Arifin (Pondok Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo), beliau mengajarkan tentang Kaya, Alim dan Sakti adalah syarat untuk menjadi kiyai. Syarat pertama, Kenapa Kiyai harus kaya? Karena dalam berdakwah membutuhkan biaya, membangun pondok dan masjid juga butuh biaya. Biaya-biaya inilah yang dituntut oleh beliau (Kiyai As’ad) pada kiyai muda (lora) penerus perjuangan agama dan bangsa (jihad) yaitu harus kaya raya untuk mempermudah dalam berdakwah.

Kemudian syarat yang kedua, kiyai itu harus Alim. Alim inilah modal utama dalam berdakwah, mengajak umat kanjeng  nabiyuna muhammad dengan ajakan cinta penuh kasih sayang. Kemudian syarat yang ketiga adalah kiyai itu harus Sakti. Sakti disini adalah karomah yaitu aura positif dari jiwanya yang terpancar kewajah dan perbuatannya (Kharisma), sehingga mudah sang kiyai dalam mengajak dan mempengaruhi umat kanjeng nabiyuna muhammad ke jalan kebenaran (islam).

 

 

Pengajian Tafsir Genius ala Thariqah Anfusiyah Indonesia | Surah Al Ghasyiyah:1-26| Gus ion | PP AGUNG AL MUBAROK Malang  Indonesia.



بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِۗ - ١

“Apakah Sudah sampai kepada engkau (ya Muhammad) berita tentang hari Kiamat?”

 

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ ۙ - ٢

“Wajah- wajah pada hari itu tertunduk malu (khusyu’)”

 

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ - ٣

“(Usahanya) bekerja keras sampai kepayahan”

 

تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً ۙ - ٤

“Mereka (tidak sadar) digiring masuk api yang sangat panas (Neraka)”

 

تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ ۗ - ٥

“Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas”

 

لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍۙ - ٦

“Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri”

 

لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍۗ - ٧

“Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan rasa lapar”

 

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌ ۙ - ٨

“(ada pula) Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri (penuh kenikmatan)”

 

لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ ۙ - ٩

“karena usahanya yang Ridha (Ikhlas)”

 

فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ - ١٠

“(mereka) dalam surga yang tinggi”

 

لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً ۗ - ١١

“Tidak mendengar di dalamnya (surga) perkataan yang sia-sia”

 

فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ ۘ - ١٢

“Di dalamnya (surga) ada mata air yang mengalir”

 

فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ ۙ - ١٣

“Di dalamnya (Surga) ada dipan-dipan yang ditinggikan”

 

وَّاَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ ۙ - ١٤

“Dan gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya)”

 

وَّنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ ۙ - ١٥

“Dan bantal-bantal yang tersusun lurus”

 

وَّزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ ۗ - ١٦

“Dan permadani-permadani yang dihamparkan”

 

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ - ١٧

“Apakah kalian itu tidak memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?”

 

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ - ١٨

“Dan tidaklah kalian itu memperhatikan terhadap langit, bagaimana ditinggikan?”

 

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ - ١٩

“Dan tidaklah kalian itu memperhatikan terhadap gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”

 

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ - ٢٠

“Dan tidaklah kalian memperhatikan terhadap bumi bagaimana dihamparkan?”

 

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ - ٢١

“Maka berilah peringatan,  sesungguhnya engkau (ya Muhammad) hanyalah pemberi peringatan”

 

لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ - ٢٢

“Tidaklah Engkau atas mereka berkuasa”

 

اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَۙ - ٢٣

“kecuali orang yang menolak dan kafir”

 

فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَۗ - ٢٤

“Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar (Neraka)”

 

اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ - ٢٥

“Sungguh, kepada Kamilah mereka dikembalikan”

 

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ ࣖ - ٢٦

“kemudian sesungguhnya Kamilah yang akan menghisab mereka”

 

 

 

Malang, 17 Februari 2022

Pondok Pesantren Agung Al Mubarok Malang


Budiyono Santoso (Gus ion)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAI MUDA NU DAKWAHKAN ISLAM NUSANTARA DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG

  Dai Muda NU Malang Dakwahkan Islam Nusantara dengan Cinta dan Kasih Sayang Pondok Pesantren  Agung Al Mubarok Malang yaitu Pondok Pesantren Siswa dan Mahasiswa yang exist di kota malang sejak tahun 2016 yang lalu. Pondok Pesantren ini yang awalnya diberi nama AMAM kepanjangan dari Asrama Mahasiswa Agung Mubarok  Malang telah mengambil kiprah dalam membentuk dan menjadikan anak generasi bangsa ini, menjadikan anak yang Soleh dan solehah.  Soleh yang dimaksud disini adalah soleh dalam spritualitas dan soleh dalam sosialitas. Soleh dalam spritualitas disini anak Asrama (santri) di ajak dengan cara lembut, penuh kasih sayang sehingga bisa menyadarkan anak-anak bahwa ilmu agama itu penting. Ilmu agama itu bisa menjadi tameng (perisai) dari hal-hal buruk yang dapat menjerumuskan ke lembah dosa dan kehancuran. Baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.  Hal ini mereka dapatkan tatkala pengajian rutin yang diadakan oleh pondok pesantren setiap harinya setia...

ORANG TUA ADALAH PINTU SURGA

 Berbhakti kepada Kedua Orang Tua Orang tua adalah sebab adanya kita di dunia ini, mulai dari mengandung yang kesusahan dan melahirkan dengan susah payah dengan taruhan nyawa, menyusui, merawat dan memoivasi kita sampai sekarang ini, mendidik kita dengan kasih sayang di rumah, menyekolahkan kita   di umum dan madrasah untuk bekal kita menjalani kehidupan di dunia hasanah dan di akhirat hasanah. oleh sebab itu kita harus berbhakti kepada kedua orang tua kita terutama ibu. Hal ini termaktub dalam QS. Al Ahqaf: 15 وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ “ Dan Kami perintahkan kepada manusia aga...

Kafire Dewe Monggo di bukake