PERBUATAN KITA CERMINAN IMAN KITA,
PERBUATAN KITA CERMINAN RABB KITA
Manusia dalam mendapatkan ilmu
dengan dua cara, yang pertama perantara qalam dan yang kedua tanpa perantara. Perantara
qalam maksudnya manusia itu harus berusaha dengan sungguh-sungguh belajar melalui
qalam (pena), melalui proses belajar
mengajar, dan sebaiknya-baiknya umat kanjeng nabiyuna muhammad adalah yang
belajar al quran dan mengajarkannya. Dan ilmu yang tanpa perantara adalah
mendapatkan ilmu yang langsung dari Allah yang langsung dimasukkan ke dalam
hati atau sering disebut dengan ilmu laduni.
Dalam kita berusaha mendapatkan
ilmu dari Allah baik itu melalui perantara maupun yang tanpa perantara harus
diawali dengan bismillah... agar ilmu yang kita dapat mendapatkan keberkahan
dari Allah dan menjadikan ilmu yang kita dapat bermanfaat bagi diri dan orang
lain. Hal ini sesuai dengan sabda kanjeng nabiyuna muhammad
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَمْ يُبْدَأْ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِ أَقْطَعُ - رواه عبد القادر الرهاوي
“Setiap pekerjaan penting yang tidak
dimulai dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang
adalah terputus berkahnya” (Riwayat Abdul Qadir ar
Rahawi).
Manusia yang mengawali setiap hal
yang penting seperti mencari ilmu dengan bismillah maka ilmu yang didapatnya
akan barokah, apabila ilmunya barokah maka manusia itu seirring bertambah
ilmunya bertambah pula ketawaddhuannya. Tawaddhuk disini adalah rendah hari dan
berakhlaq tinggi. Seperti tanaman padi, semakin berisi semakin merunduk. Itulah
orang yang mempunyai ilmu yang barokah, mengutamakan akhlaq diatas ilmunya.
Berkaitan dengan akhlaq, itulah
buah dari keimanan (ilmu yang barokah) sering kita sebut dengan amal soleh. Amal
soleh atau akhlaq yang mulia itulah cerminan dari keimanan kita, akhlaq yang
mulia mencerminkan siapa rabb kita. Jikalau rabb kita adalah Allah yang maha
rahman dan rahim maka, pastinya akhlaq atau perbuatan kita dalam kehidupan
sehari-hari pastinya terpancar kasih dan sayang. Namun apabila akhlaq kita
sebaliknya alias buruk, maka pastinya rabb nya adalah hawa nafsunya, yang mana
hawa nafsunya mendorong kearah keburukan atau kejelekan.
Wallahu a’lam...
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ
ۙ - ٦
“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu
benar-benar melampaui batas”
اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ - ٧
“Sesungguhnya
orang yang melihat dirinya serba cukup”
اِنَّ اِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰىۗ - ٨
“Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah engkau
dikembalikan”
اَرَاَيْتَ الَّذِيْ يَنْهٰىۙ - ٩
“Bagaimana meneurutmu
apabila melihat orang melarang”
عَبْدًا اِذَا صَلّٰىۗ - ١٠
“seseorang hamba ketika dia melaksanakan
shalat”
اَرَاَيْتَ اِنْ كَانَ عَلَى
الْهُدٰىٓۙ - ١١
“Bagaimana menurutmu jika dia (yang shalat) melakukan atas
petunjuk Allah”
اَوْ اَمَرَ بِالتَّقْوٰىۗ - ١٢
“atau dia menyuruh kearah takwa (kepada Allah)”
اَرَاَيْتَ اِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ -
١٣
“Bagaimana pendapatmu jika dia (yang
melarang) tetap dusta dan memungkiri?”
اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ
يَرٰىۗ - ١٤
“Bukankah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah melihat
(segala perbuatannya)”
كَلَّا لَىِٕنْ لَّمْ يَنْتَهِ ەۙ
لَنَسْفَعًاۢ بِالنَّاصِيَةِۙ - ١٥
“Sekali-kali tidak! Sungguh, apabila
dia tidak berhenti (melarang
shalat) niscaya Kami
tarik ubun-ubunnya, (di masukkan ke dalam neraka)”
نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍۚ - ١٦
“(yaitu) ubun-ubun orang yang
mendustakan dan durhaka”
فَلْيَدْعُ نَادِيَهٗۙ - ١٧
“Maka suruh panggil
kelompoknya (gank) untuk menolongnya”
سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَۙ - ١٨
“Nanti Kami akan panggil Malaikat Zabaniyah, (Laskar
di neraka)”
كَلَّاۗ لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ
وَاقْتَرِبْ ۩ ࣖ - ١٩
“Sekali-kali tidak! Janganlah kamu
patuh kepadanya (Jiwa Thaga) dan sujudlah maka kamu dekat dengan rabbmu”
Malang, 14 Maret 2022
Pon Pes Agung Al Mubarok Malang
Indonesia
Budiyono Santoso (Gus ion)
Komentar
Posting Komentar